16 Negara Kasus Kebocoran Data Facebook Terbanyak, Indonesia Ada ?

facebook-smartphone
    Credit: IndianExpress

Kasus kebocoran data Facebook selalu menjadi perbincangan warganet atas kelemahan keamanan yang mereka miliki, tapi, disisi lain belum dipastikan kebenaran apakah ratusan juta data yang bocor adalah valid atau sebaliknya. Disamping itu, belum ada informasi juga tentang celah yang ada di Facebook dan bagaimana seorang anonim itu mendapatkan data tersebut dengan banyak.

Berdasarkan pemasangan aplikasi Facebook Lite di Android, penggunanya sudah mencapai lebih dari 1 miliar, sementara pada aplikasi Facebook yang biasa sudah melampaui 5 miliar. Sedangkan pemasangan aplikasi pada iOS mendapatkan ulasan sekitar 729 ribu pengguna. Namun, karena pengguna iPhone khususnya di Amerika selalu menjaga privasi dirinya, aplikasi Facebook mendapatkan rating 2.7, yang terbilang cukup rendah daripada di Play Store.

Rating rendah di App Store bukan semata-mata memberikan ulasan semena-mena, melainkan penggunanya melihat insiden yang pernah terjadi sebelumnya. Pada Januari 2021, peneliti keamanan dari Safety Detectives juga menemukan insiden kebocoran data Facebook dengan total 81 juta pengguna dibagikan di forum hacker.


Menurut dugaan kami, data yang dibocorkan dari tahun ke tahun mungkin tidak berbeda alias semua data disatukan menjadi database yang besar dan dijual untuk keuntungan sendiri, Penjualan yang dilakukan bukan lagi di forum, melainkan menawarkan data pengguna Facebook kepada perusahaan yang membutuhkan alamat email, nama lengkap dan nomor telepon, atau jika di Indonesia kemungkinan dijadikan bahan pinjaman online yang marak terjadi.

Hal yang disayangkan dari Facebook adalah mereka tidak memberikan informasi ini kepada penggunanya, berbeda dari perusahaan-perusahaan lain yang mengirimkan informasi kebocoran data melalui email dan memberikan solusi agar akun tidak dibobol hacker. 

Berikut ini 16 negara korban kebocoran data Facebook terbanyak dari tahun 2020 hingga 2021:
  1. Spanyol 10,894,206
  2. Algeria 11,505,898
  3. Inggris 11,522,328
  4. Malaysia 11,675,894
  5. Mexico 13,330,561
  6. Afrika 14,323,766
  7. Iraq 17,116,398
  8. Kolombia 17,957,908
  9. Morocco 18,939,198
  10. Turki 19,638,821
  11. Prancis 19,848,559
  12. Saudi Arabia 28,804,686
  13. Amerika Serikat 32,315,282
  14. Italia 35,677,323
  15. Tunisia 39,526,412
  16. Mesir 44,823,547
Dimanakah Indonesia? Untungnya, negara kita tidak menjadi korban terbanyak untuk tahun ini, yakni hanya sekitar 130,331 ribu. Informasi yang dibocorkan mencakup nama lengkap, alamat email, nomor telepon, kota dan negara. Sebenarnya masih ada lagi, cuman yang dikhawatirkan dengan bermodalkan itu bisa menjadi alat untuk hacker mengumpulkan data lebih banyak lagi dengan tujuan kejahatan.

Data yang bocor kami anggap sebagai valid. Berdasarkan komentar salah satu pengguna Facebook bernama Darus Salam yang mengatakan: "Nama saya juga ada .. Bener lagi sukabumi." dan ditambah lagi dengan komentar oleh Adityawd: "Aduh namaku ada pak".

Lalu, Bagaimana Langkah Selanjutnya?

Jika data kamu tercantum didalam kebocoran data tersebut, sebaiknya segera memasang two-factor authentication milik Google atau Microsoft melalui Play Store atau Apple Store. Periksa juga aktivitas akun apakah tempat login sudah sesuai dengan lokasi keberadaan kamu saat ini. Selain itu, jangan pernah cantumkan informasi yang dinilai 'sensitif' seperti nomor telepon dan alamat email, karena bisa di scrape oleh orang lain.

Ini bukan lagi soal 'data saya ga terlalu penting amat' atau 'ngapain hack akun saya, gada isinya'. Sesuatu yang berkaitan dengan data pribadi sudah seharusnya itu dijaga dan dirahasikan baik itu nomor ktp, nomor telepon, alamat email, nomor rekening dan lain sebagainya. Jika salah satu ini bocor, maka persiapkan dirimu jika ada seseorang yang tidak dikenal menghubungi, lalu bertanya-tanya soal data pribadi.

Informasi seperti itu banyak dimanfaatkan orang untuk berbuat keisengan / kejahatan siber dunia maya, seperti memesan barang dengan nama lengkap, nomor telepon dan alamat rumah dari korban, tetapi korban sendiri merasa tidak pernah memesan barang apapun melalui toko online. Bahkan, lebih parahnya nomor telepon bisa dijadikan pihak ketiga sebagai pinjaman online, dan jika orang jahat itu mempunyai alamat lengkap dari korban, bisa saja hal itu dicantumkan ketika meminjam uang online.

Jadi, jangan terlalu meremehkan soal kebocoran data seperti ini, alangkah baiknya selalu mengantisipasi serta mencegah sesuatu yang mencurigakan pada akun sosial media maupun akun bank yang kita miliki agar tidak menjadi korban kebobolan akun dikala mendatang.

Posting Komentar

0 Komentar