Apakah Serangan DDoS Masih Ampuh Hingga Sekarang ?

Apakah Serangan DDoS Masih Ampuh Hingga Sekarang ?


Perlu diketahui, serangan DDoS terdapat berbagai macam jenis-jenis dan impact yang berbeda-beda dengan tingkatan yang rendah hingga tinggi serta secara langsung berdampak kepada web yang tidak bekerja seperti biasanya. Tak hanya kerentanan pada web serangan seperti ini juga tidak kalah merugikan khususnya yang memiliki konsumen dengan jumlah yang sangat banyak.

Banyaknya sumber lalu lintas yang langsung mengarah kepada sebuah web / layanan maka tidak lain hasil selanjutnya akan overload dan ini menyulitkan pengelola untuk mengembalikan secara normal. Penyerang biasanya menargetkan sebuah celah yang dimana terdapat sesuatu rentan diserang DDoS seperti halnya TCP/UDP yang dapat diakses publik.

Jejak Digital DDoS Attack

Dalam perjalanan DDoS Attack sejumlah perusahaan dunia pernah mengalami insiden serangan ini dan tercatat dalam sejarah dengan serangan paling terbesar pada saat itu yaitu Github. Serangan tersebut mencapai tingkat tertingginya berkisar 1.35 Tbps dan kejadian itu terjadi pada tahun 2018.

Pada waktu itu Github diserang dengan jenis Memcached DDoS dan sama sekali tidak menggunakan botnet. Kekuatan serangan yang dialami Github yaitu sekitar 50,000 - 55,000x secara cepat langsung membanjiri server dengan permintaan palsu. Namun untuk menghentikan serangan itu Github telah memiliki layanan proteksi DDoS dan akhirnya setelah 10 menit serangan tersebut dapat dihentikan serta berjalan dengan normal kembali.

Github tidak sendirian melainkan ada beberapa perusahaan lainnya yang terkena imbas serangan DDoS yaitu Amazon. Perusahaan raksasa Amazon pada bulan februari 2020 membuat laporan dan melakukan mitigasi terhadap serangan DDoS yang fantastis yaitu 2,3Tbps dan ini menjadi serangan DDoS yang mengalahkan Github pada tahun 2018 silam.

Apakah DDoS Masih Aktif di Tahun 2020

Jawabannya adalah Iya. Dilihat dari history serangan DDoS yang sudah ada maka bisa dipastikan ia masih bisa digunakan untuk menyerang suatu web. Di masa pandemi COVID-19 para penyerang biasanya memanfaatkan kelengahan dari pengelola web tersebut dan serangan tersebut dilakukan secara brutal dan massive.

Di tahun 2020, serangan DDoS meningkat yaitu sekitar 50 - 60% daripada ditahun sebelumnya yang hanya mencapai 20% dan ini akan terus meningkat apalagi dengan adanya pandemi COVID-19 para penyerang mungkin saja memiliki maksud dan tujuan di dalamnya mengapa ia menyerang sistem web / layanan online dari korban.

Tren serangan DDoS di tahun 2020 tidak berbeda jauh dari tahun sebelumnya namun meningkat secara signifikan dikarenakan pandemi COVID-19. Walaupun hanya satu target biasanya penyerang akan melakukan berbagai macam metode penyerangan DDoS untuk mengganggu lalu lintas jaringan suatu website.

Serangan dari cloud umumnya sebanyak 47% dan persentase ini akan terus meningkat selama pandemi COVID-19. Beberapa penyedia layanan cloud yang paling sering disalahgunakan yaitu AWS Amazon, Google Cloud, dan Azure. Cloud yang mereka gunakan umumnya menggunakan identitas orang lain (palsu) dan pembayaran yang tidak sah.

Penyerang memanfaatkan waktu untuk melakukan serangan DDoS agar benar-benar dapat bekerja dengan sepenuhnya. Hari yang paling mendominasi untuk serangan ini yaitu di hari Jum'at, Sabtu ataupun Minggu serta kegiatan tersebut dilakukan di malam hari mungkin mereka memikirkan untuk melakukan di luar jam kerja kantor.

Anda mungkin menyukai postingan ini